Abstrak
Pengembangan desa wisata menuntut positioning yang tidak berhenti pada slogan promosi, tetapi mampu menjaga koherensi antara karakter ruang, narasi, dan pengalaman wisatawan. Artikel ini menganalisis Desa Wisata Wotawati, Kabupaten Gunungkidul, yang memiliki keunikan spasio-temporal berupa paparan sinar matahari terbatas (sekitar pukul 08.00 hingga sebelum 16.00) yang membentuk ritme hidup masyarakat setempat. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif berbasis telaah dokumen, pengamatan lapangan terbatas, dan sintesis literatur untuk menilai kesesuaian positioning destinasi dengan kapasitas sistem destinasi melalui kerangka 7A (Attraction, Activities, Accessibility, Amenities, Ancillary, Ambience, Attitude) dalam perspektif Community-Based Tourism (CBT). Hasil analisis menunjukkan bahwa kekuatan utama Wotawati terletak pada Attraction, Ambience, dan Attitude, sedangkan titik rawan berada pada Accessibility serta Amenities, terutama terkait kondisi jalan, sinyal komunikasi, dan keterbatasan air bersih. Artikel ini menegaskan paket wisata sebagai instrumen tata kelola (governance tool) untuk menyelaraskan positioning, kualitas pengalaman, dan keberlanjutan, melalui pengaturan alur kunjungan, pengelolaan risiko, serta distribusi peran dan manfaat secara adil.